New Videos from Youtube
Tampilkan postingan dengan label wisata alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata alam. Tampilkan semua postingan

Inilah Atraksi Wisata Pemacu Adrenalin di Bogor

ILUSTRASI - Atlet paralayang SEA Games XXVI/2011 berlatih di kawasan Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (8/11/2011). Para negara peserta cabang paralayang berlatih sekaligus beradaptasi dengan lingkungan sebelum mulai bertanding pada 12 November mendatang.


KOMPAS.com  Maniak adrenalin yang mengalir di tubuh harus mampir ke Bogor. Di Bogor, aneka atraksi wisata pemacu adrenalin hadir melengkapi kegiatan para pelancong. Berikut enam kegiatan yang direkomendasi.

Paralayang di Puncak Pass. Jika Anda melewati perkebunan teh Gunung Mas, dari kejauhan akan tempak parasut paralayang berterbangan.

Dari ketinggian 1.900 meter dari permukaan laut, Anda akan diajak terbang melintasi perkebunan teh Gunung Mas selama 10 menit. Hamparan tanaman teh seperti karpet hijau dari ketinggian.

Belum lagi hawa sejuk khas Puncak menambah debaran adrenallin Anda saat menjelajahi udara layaknya burung. Jika ini pengalaman pertama Anda, sebaiknya paralayang dengan cara tandem dengan instruktur.

Puncak Pass berada di daerah Cisarua, Bogor. Akses menuju kawasan ini sangat mudah dijangkau dari Jakarta. Perjalanan dapat ditempuh sekitar 2 jam jalur darat dari Jakarta.

Walaupun di akhir pekan, perjalanan akan terasa lebih lama karena Puncak Pass merupakan destinasi wisata favorit. Di lokasi tertentu perjalanan merupakan kantong-kantong macet.

Rafting di Sungai Citarik. Salah satu tempat favorit di Pulau Jawa untuk merasakan berarung jeram di sungai adalah Sungai Citarik.

Sejak lama, rafting di Sungai Citarik menjadi tujuan wisatawan ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Sungai ini memang berada di tenggara kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.

Apalagi sungai ini memiliki tingkat kesulitan yang cocok untuk profesional maupun pemula. Pemula dapat memilih rute pendek dengan lama pengarungan sekitar satu jam.

Flying Fox di Taman Wisata Mekarsari. Salah satu fasilitas di Taman Wisata Mekarsari adalah wahana outbound. Wahana ini berada di antara pohon-pohon kelapa sehingga disebut wahana "Sabut Kelapa Outbound”.

Sebagai lokasi outbound, wahan ini menyediakan berbagai rintangan. Mulai dari panjat dinding sampai naik menara lalu meniti jembatan tali.

Untuk menguji adrenalin, coba saja flying fox. Anda akan dilemparkan dari ketinggian menara ke bawah secara berayun-ayun. link

Jangan mau kalah dengan anak-anak. Sebab di tempat ini, anak-anak pun gemar melakukan flying fox. Lepaskan jeritan sambil merasakan sensasi berayun di ketinggian.

Taman Wisata Mekarsari terletak di Jalan Raya Cileungsi KM 03, Bogor. Dari Jakarta, dapat diakses melalui Tol Jagorawi dan keluar di Pintu Tol Cibubur.

Menelusuri Goa Gudawang. Berada di kawasan seluas 25 hektar, tak menjadikan semua goa di kawasan ini bisa dijelajahi. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 12 goa di kawasan ini.

Ada tiga goa yang bisa ditelusuri wisatawan, yaitu Goa Simenteng, Goa Sipahang, dan Goa Simagisit. Uniknya, di Goa Simenteng dan Sipahang, pengunjung dapat melihat aliran air di dasarnya.

Masuk dalam kegelapan goa, menimbulkan sensasi tersendiri. Ada perasaan takut seperti masuk ke dalam rumah hantu, walaupun tak ada hantu yang akan mengejutkan Anda.

Sayangnya, fasilitas di kawasan goa masih minim. Lampu di dalam goa masih minim. Anda harus membawa senter untuk masuk ke dalam goa. Sebaiknya gunakan jasa pemandu.

Goa ini berada di Desa Argapura, Cigudeg, Bogor. Untuk menuju goa, bisa dengan transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Lama tempuh sekitar satu jam perjalanan darat dari Kota Bogor.

Adu Tinju di Kebun Wisata Pasirmukti. Arena lumpur di kawasan Kebun Wisata Pasirmukti tak hanya sekadar memperlihatkan proses membajak sawah dengan kerbau.Pengunjung pun diajak adu tinju dengan bantal. Makin menarik, karena arena tinju berada di area berlumpur.

Sebilah bambu dipasang di atas kolam lumpur. Lalu dua petarung duduk di atas bambu. Saling menggebuk sambil salah satu terlempar ke dalam lumpur. Pihak yang jatuh adalah yang kalah.

Selintas, permainan ini akan mengingatkan pada lomba-lomba yang biasa diselenggarakan saat Kemerdekaan RI. Seru dan menengangkan. Sebab, tentu Anda tak mau menjadi pihak yang tercebur ke dalam lumpur.

Kebun Wisata Pasirmukti berada di Jalan Raya Tajur Pasirmukti KM 4, Citeureup, Bogor. Dari Jakarta, dapat ditempuh selama satu jam perjalanan darat.

Naik Microlight di Desa Lido. Pernah naik gantole? Bagaimana kalau menjajal gantole bermesin atau disebut dengan microlight.

Microlight semacam pesawat berukuran kecil yang dapat memuat dua orang. Jika tertarik naik microlight, Anda bisa mencobanya di Danau Lido.

Anda akan diajak terbang di ketinggian dengan pesawat berbadan kecil. Ngeri tentu saja, lepaskan saja dengan berteriak. Pemandangan Bogor nan cantik di bawah sana akan memanjakan mata Anda.

Danau Lido berada di Jalan Raya Sukabumi, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk. Akses menuju Danau Lido sangat mudah. Dari Jakarta dapat ditempuh selama dua jam perjalanan darat.

Sejarah Kebun Raya Bogor

Info Bogor : Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari 'samida' (hutan buatan atau taman buatan) yang paling tidak telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513) dari Kerajaan Sunda, sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Di samping samida itu dibuat pula samida yang serupa di perbatasan Cianjur dengan Bogor (Hutan Ciung Wanara). Hutan ini kemudian dibiarkan setelah Kerajaan Sunda takluk dari Kesultanan Banten, hingga Gubernur Jenderal van der Capellen membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya pada pertengahan abad ke-18.

Pada awal 1800-an Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, yang mendiami Istana Bogor dan memiliki minat besar dalam botani, tertarik mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, W. Kent, yang ikut membangun Kew Garden di London, Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya sekarang.

Pada tahun 1814 Olivia Raffles (istri dari Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles) meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di Batavia. Sebagai pengabadian, monumen untuknya didirikan di Kebun Raya Bogor.

Ide pendirian Kebun Raya bermula dari seorang ahli biologi yaitu Abner yang menulis surat kepada Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen. Dalam surat itu terungkap keinginannya untuk meminta sebidang tanah yang akan dijadikan kebun tumbuhan yang berguna, tempat pendidikan guru, dan koleksi tumbuhan bagi pengembangan kebun-kebun yang lain.

Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt adalah seseorang berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani dan kimia. Ia lalu diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya. Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk pengobatan. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa Belanda yang berarti "tidak perlu khawatir"). Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense.

Pada tahun 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama s'Lands Plantentuinte Buitenzorg. Pendiriannya diawali dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda dibangunnya pembangunan kebun itu, yang pelaksanaannya dipimpin oleh Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent (dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris).

Sekitar 47 hektare tanah di sekitar Istana Bogor dan bekas samida dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut.

Pada tahun 1822 Reinwardt kembali ke Belanda dan digantikan oleh Dr. Carl Ludwig Blume yang melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di kebun. Ia juga menyusun katalog kebun yang pertama berhasil dicatat sebanyak 912 jenis (spesies) tanaman. Pelaksanaan pembangunan kebun ini pernah terhenti karena kekurangan dana tetapi kemudian dirintis lagi oleh Johannes Elias Teysmann (1831), seorang ahli kebun istana Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Dengan dibantu oleh Justus Karl Hasskarl, ia melakukan pengaturan penanaman tanaman koleksi dengan mengelompokkan menurut suku (familia).

Teysmann kemudian digantikan oleh Dr. Rudolph Herman Christiaan Carel Scheffer pada tahun 1867 menjadi direktur, dan dilanjutkan kemudian oleh Prof. Dr. Melchior Treub.

Pendirian Kebun Raya Bogor bisa dikatakan mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan lain, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894).
Pada tanggal 30 Mei 1868 Kebun Raya Bogor secara resmi terpisah pengurusannya dengan halaman Istana Bogor.

Pada mulanya kebun ini hanya akan digunakan sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan diperkenalkan ke Hindia-Belanda (kini Indonesia). Namun pada perkembangannya juga digunakan sebagai wadah penelitian ilmuwan pada zaman itu (1880 - 1905).

Kebun Raya Bogor selalu mengalami perkembangan yang berarti di bawah kepemimpinan Dr. Carl Ludwig Blume (1822), JE. Teijsmann dan Dr. Hasskarl (zaman Gubernur Jenderal Van den Bosch), J. E. Teijsmann dan Simon Binnendijk, Dr. R.H.C.C. Scheffer (1867), Prof. Dr. Melchior Treub (1881), Dr. Jacob Christiaan Koningsberger (1904), Van den Hornett (1904), dan Prof. Ir. Koestono Setijowirjo (1949), yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat suatu pimpin lembaga penelitian yang bertaraf internasional.

Pada saat kepemimpinan tokoh-tokoh itu telah dilakukan kegiatan pembuatan katalog mengenai Kebun Raya Bogor, pencatatan lengkap tentang koleksi tumbuh-tumbuhan Cryptogamae, 25 spesies Gymnospermae, 51 spesies Monocotyledonae dan 2200 spesies Dicotyledonae, usaha pengenalan tanaman ekonomi penting di Indonesia, pengumpulan tanam-tanaman yang berguna bagi Indonesia (43 jenis, di antaranya vanili, kelapa sawit, kina, getah perca, tebu, ubi kayu, jagung dari Amerika, kayu besi dari Palembang dan Kalimantan), dan mengembangkan kelembagaan internal di Kebun Raya yaitu:
* Herbarium
* Museum
* Laboratorium Botani
* Kebun Percobaan
* Laboratorium Kimia
* Laboratorium Farmasi
* Cabang Kebun Raya di Sibolangit, Deli Serdang dan di Purwodadi, Kabupaten Pasuruan
* Perpustakaan Fotografi dan Tata Usaha
* Pendirian Kantor Perikanan dan Akademi Biologi (cikal bakal IPB).

Kebun Raya Bogor sepanjang perjalanan sejarahnya mempunyai berbagai nama dan julukan, seperti
* s'Lands Plantentuin
* Syokubutzuer (zaman Pendudukan Jepang)
* Botanical Garden of Buitenzorg
* Botanical Garden of Indonesia
* Kebun Gede
* Kebun Jodoh

Info bogor : Sejarah Kebun Raya Bogor

Gunung Salak Bogor Tempat Suci Petilasan Para Raja

Gunung Salak Bogor
INFO BOGOR:: Gunung Salak, Bogor, dikenal cukup angker. Hampir setiap tahun gunung yang membatasi wilayah Bogor dan Sukabumi itu memakan tumbal, terutama dari kalangan pendaki. Bahkan, sejumlah pesawat telah terkubur di gunung yang memiliki ketinggian 2.211 m di atas permukaan laut.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 hanya satu di antara beberapa pesawat yang jatuh di kawasan Gunung Salak. Sejumlah pesawat yang terkubur di kawasan itu yakni pesawat Trike bermesin PKS 098. Pesawat yang menelan satu korban jiwa ini jatuh di Lido, Bogor, 10 Oktober 2002. Kemudian pada 29 Oktober 2003, Helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Tujuh korban tewas dalam musibah tersebut: Selanjut pada 15 April 2004, pesawat paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Dua orang tewas dalam kejadian itu.

Pada 20 Juni 2004, pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor dan menewaskan 5 orang. Kemudian pada Juni 2008, pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut. Kecelakaan itu menyebabkan 18 orang tewas. Berikutnya, pada 30 April 2009, pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, menewaskan 3 orang.

Gunung Salak merupakan gunung berapi yang mempunyai dua puncak, yakni Puncak Salak I dan II. Letak astronomis puncak gunung ini ialah pada 6°43" LS dan 106°44" BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.

Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur. Jalur yang paling ramai digunakan adalah melalui Curug Nangka, Tamansari, Bogor yang letaknya di sebelah utara gunung. Melalui jalur ini, orang akan sampai pada puncak Salak II.

Puncak Salak I biasanya didaki dari arah timur, yakni Cimelati dekat Cicurug, Sukabumi. Salak I juga bisa dicapai dari Salak II dari Sukamantri, Ciapus, Tamansari, Bogor. Jalur lain adalah ‘jalan belakang’ lewat Cidahu, Sukabumi, atau dari Kawah Ratu dekat Gunung Bunder.

Gunung Salak meskipun tergolong sebagai gunung yang rendah, akan tetapi memiliki keunikan tersendiri baik karakteristik hutannya maupun medannya. Asal usul sejarah penamaan Gunung Salak masih simpang siur karena catatan yang ditemukan pada sejumlah prasasti dan tulisan dalam bahasa Sunda kuno tidak dengan jelas menyebutkan sejak kapan Gunung tersebut mulai ada.

Budayawan dan Sejarawan Bogor, Eman Sulaeman membeberkan, orang zaman dahulu lebih mengenal Gunung Salak dengan sebutan Gunung Buled (bulat, red) karena bentuk puncaknya menyerupai lingkaran. Konon, penamaan Salak berasal dari penemuan buah salak besar. “Itu kan hanya mitos, jadi belum bisa dibuktikan kebenarannya hingga kini,” ujarnya kepada Radar Bogor (Grup JPNN), kemarin.

Ia mengatakan, Gunung Salak pernah meletus dua kali. Yang pertama pada tahun 1669 dan kedua tahun 1824. Letusan pertama sempat meratakan desa atau wilayah yang berada di bawahnya. Menurut dia, di kaki Gunung Salak pernah berdiri kerajaan Hindu pertama di Jawa Barat dengan nama Salakanagara pada abad ke-4 dan 5 Masehi.

“Kemungkinan besar, penamaan Salak berasal dari kerajaan ini karena dilihat dari konsonan vokal terdapat kemiripan,” ujar pria yang sempat bermain sinetron itu.

Eman mengungkapkan, Salakanagara dipimpin oleh seorang raja dengan gelar Raja Dewawarman I-VIII. Tidak jelas nama asal usul dan nama asli para raja yang menguasai semenanjung Sunda tersebut, namun terungkap jika mereka berasal dari India Selatan.

Terungkapnya kerajaan Salakanagara bermula dari penemuan tulisan Raja Cirebon yang berkuasa tahun 1617 Wangsakerta, yang ditemukan pada abad ke-19 Masehi. Dari sinilah kemudian diketahui, jika kerajaan Hindu pertama di Jabar bukan Tarumanagara, tapi Salakanagara.

Ada kurang lebih 20 kitab yang tersebar dan dikumpulkan oleh peneliti asal Belanda dan Indonesia. Tulisan Wangsakerta sempat menyinggung tentang Salakanagara yang dipimpin oleh Raja Dewawarman dari India Selatan,” bebernya.

Konon, Raja Dewawarman memiliki banyak sekali keturunan. Di antaranya pernah menjadi raja besar di Tanah Jawa seperti Purnawarman yang memerintah Tarumanagara dan Mulawarman raja dari Kutai Kartanagara. “Tapi, meletusnya Gunung Salak pada tahun 1669 diduga ikut mengubur barang peninggalan bersejarah dari kerajaan Salakanagara,” jelas Eman.

Terkait misteri yang terkandung pada Gunung Salak, Eman mengaku tidak ada hal aneh di sana meski didominasi wilayah hutan. “Saya belum menemukannya. Mungkin itu merupakan cerita mitos yang disebarkan dari mulut ke mulut,” singkatnya.

Hanya saja, di sana terdapat banyak sekali tempat petilasan atau tempat bersemedi para raja dan pengikutnya. Petilasan suci itu tersebar di berbagai titik. Seperti petilasan milik raja Pajajaran, Prabu Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi di kaki Gunung Salak di daerah Bogor dengan total mencapai lebih dari 91 lokasi. “Mungkin bisa ratusan jumlahnya karena pertapa dalam agama Hindu menyucikan Gunung Salak,” ucapnya.

Di sana juga terdapat makam kuno yang berusia ratusan tahun dengan jumlah mencapai lebih dari 40 makam. Makam itu milik pemuka agama Hindu yang wafat dan dikuburkan di Gunung Salak. Sehingga, banyak yang menganggap jika ingin memasuki wilayah Gunung Salak, harus menjaga perilaku dan sopan santun.

Misteri lain yang menyelimuti Gunung Salak adalah pernah terdengar cerita ada goa yang di dalamnya berisi belasan patung emas dalam berbagai ukuran. Tapi, hingga kini belum pernah ada bukti empiris yang ditemukan peneliti.

Itu kan kata orang zaman dulu. Maka tak heran, banyak masyarakat sering datang ke sana dengan berbagai keperluan. Ada yang ingin mendaki, ada juga ingin meminta kekayaan dengan cara pesugihan,” pungkasnya. (JPNN) Info Gunung Saalak

Telaga Malimping | Wisata Alam Pedesaan

Telaga Malilmping adalah taman wisata keluarga yang bernuansa alam dengan pemandangan alam yang indah,udaranya yang bersih dan sejuk disertai fasilitas yang untuk anda rekreasi bersama anggota keluarga dan sahabat anda.


TELAGA MALIMPING MENYEDIAKAN BERBAGAI JENIS AKOMODASI BERNUANSA ALAM DENGAN FASILITAS PENGINAPAN,ISTANA BALON,ANEKA SATWA LANGKA,CANOPY STREET,FLYING FOX,KOLAM RENANG,MANDI BOLA,BANANA BOATS,ATV,MINI TRAIL,ARUNG JERAM,PONDOK KULINER,KARAOKE DLL.


Disini dengan voucher hemat senilai 50.000 sudah mendapatkan 10 Gratis Tiket Masuk & 10 Beli 1 Gratis 1 Tiket Masuk.Selain itu manfaat lainnya mendapatkan Diskon Flying Fox 50%,Diskon Banana Boat 50%,Diskon ATV 30%,Diskon Restaurant 15%,Diskon Rafting 10%,Diskon Penginapan 20% serta masih banyak lagi permainan yang lainnya harga berkisar antara Rp.15.000-Rp.60.000.
Rafting yang berlokasi di sungai Cisadane ini memiliki jarak tempuh terendah 5km seharga Rp.180.000/org,sedang 7km Rp.200.000/org dan terjauh 11km Rp.300.000/org sudah mendapatkan Sertifikat Rafting + 1 kali makan.
Untuk Penginapan disini ada 2 macam berupa:
- Villa sendiri harga berkisar antara Rp.175.000-Rp.500.000/malam.
(2 Bedroom,Livingroom,Kitchen,AC,Karaoke free Swimming pool)
- Kamar Rp.75.000/malam
Untuk Penginapan Villa dan Kamar Free Kolam Renang,dan kalau yang tidak menginap tetapi ingin berenang hanya cukup membayar sekitar Rp.10.000.


UNTUK PENGINAPAN DAN ROMBONGAN HARAP RESERVASI 2 MINGGU SEBELUMNYA



BY . INFO BOGOR Di Dukung Oleh Abun Bogor Groop
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TAMAN BOGOR - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger